Lompat ke konten utama

Rilis Pers

Ketika Tren Media Sosial Membuat Kita Rela Antre Berjam-jam

Tren media sosial sering membuat orang rela antre berjam-jam di tempat viral. Simak penjelasan FOMO, sunk cost fallacy, dan ciri latah ikut tren.

Reyhan Admin

3 menit baca
Ilustrasi antrean panjang di tempat viral yang dipicu tren media sosial
Ilustrasi antrean panjang di tempat viral yang dipicu tren media sosial

Pernahkah Anda berdiri di antrean panjang sebuah kedai kopi atau tempat wisata yang sedang viral, sementara di seberang jalan ada tempat lain dengan menu serupa dan waktu tunggu jauh lebih singkat? Pemandangan ini sudah menjadi hal biasa. Orang rela menunggu berjam-jam hanya untuk mencoba tempat yang ramai dibicarakan di tren media sosial. Fenomena ini menjadi sorotan dalam kolom opini Suara.com berjudul Rela Antre Berjam-jam di Tempat Viral: Ketika FOMO Mengalahkan Logika, terbit 21 Oktober 2026.

Kolumnis Suara.com, Dian Haerani, menyoroti bagaimana media sosial mengubah cara orang mencari tempat makan, nongkrong, dan menghabiskan akhir pekan. Rekomendasi yang dulu datang dari teman atau keluarga kini sering berawal dari video singkat. Visual makanan yang menggoda, interior estetik, dan ulasan kreator membuat sebuah tempat tampak begitu menarik. Semakin sering tempat itu muncul di linimasa, semakin besar rasa penasaran yang muncul.

Sayangnya, popularitas kerap keliru dianggap sebagai bukti kualitas. Padahal, ramai pengunjung tidak selalu berarti tempat tersebut lebih baik. Antrean kadang bukan hanya akibat banyaknya pengunjung, tetapi sudah menjadi bagian dari pengalaman yang ingin dirasakan. Orang ingin membuktikan bahwa dirinya pernah berada di sana, ikut merasakan euforia yang sama seperti yang dilihatnya di layar ponsel.

FOMO dan jebakan sunk cost fallacy

Di balik antrean itu, ada dorongan yang disebut FOMO atau fear of missing out, yakni rasa takut tertinggal dari pengalaman yang dinikmati orang lain. Linimasa yang penuh unggahan tentang tempat viral memunculkan kekhawatiran tidak bisa ikut percakapan, dianggap kurang mengikuti tren, atau melewatkan pengalaman yang sedang populer. Rasa khawatir ini jugalah yang membuat seseorang enggan berpindah tempat meski antrean semakin panjang.

Keengganan tersebut berkaitan dengan sunk cost fallacy, yaitu kecenderungan mempertahankan keputusan karena sudah mengeluarkan waktu dan tenaga, padahal waktu yang terbuang tidak akan kembali. Tentu, tidak semua orang yang mengantre terjebak FOMO. Sebagian memang menyukai produk tersebut dan penasaran. Masalah muncul ketika keinginan ikut tren membuat seseorang mengabaikan pilihan lain yang sebenarnya lebih menyenangkan.

Ciri orang yang latah ikut tren

Fimela.com dalam artikelnya pada 26 Oktober 2026 mengulas ciri-ciri orang yang latah ikut tren media sosial. Salah satunya adalah merasa tidak nyaman saat banyak orang membicarakan hal viral sementara dirinya belum mencoba. Ada kekhawatiran dianggap kurang kekinian atau tidak nyambung dengan teman.

Fimela.com mengutip kajian Laboratorium Psikologi Universitas Gadjah Mada yang menyebut bahwa FOMO membuat orang merasa harus terus memantau media sosial karena khawatir melewatkan informasi atau tren. Ciri lain yang bisa dikenali:

  • Dorongan memeriksa notifikasi dan menggulir linimasa berulang, termasuk sebelum tidur atau setelah bangun pagi.
  • Kebiasaan membandingkan diri dengan unggahan orang lain.
  • Mudah tergoda membeli barang viral dan sulit menolak ajakan teman.
  • Cepat beralih ke tren baru sebelum benar-benar menikmati tren sebelumnya.

Fimela.com juga mengutip psikolog dari Cleveland Clinic yang menyatakan bahwa membandingkan diri dengan media sosial dapat memengaruhi harga diri karena unggahan hanya menampilkan sisi tertentu kehidupan. Meski begitu, tidak semua orang yang ikut tren mengalami FOMO. Sebagian melakukannya karena memang menyukai tren atau ingin mencoba hal baru. Tren juga bisa memberi inspirasi dan memperkenalkan hobi baru.

Membedakan keinginan pribadi dan dorongan sesaat

Baik Dian Haerani maupun Fimela.com menyarankan agar kita memeriksa alasan sebelum ikut arus. Dian menyarankan untuk bertanya pada diri sendiri: apakah tempat tersebut sesuai dengan selera sendiri atau hanya penasaran karena semua orang membicarakannya? Tidak semua tren harus diikuti. Sementara Fimela.com mengingatkan pentingnya membiasakan diri memeriksa alasan sebelum ikut tren, menyesuaikan keputusan dengan kebutuhan dan anggaran, serta membatasi waktu di media sosial.

Dampaknya perlu diperhatikan jika kebiasaan ikut tren mulai menimbulkan tekanan, pengeluaran berlebihan, atau mengganggu aktivitas sehari-hari. Sebuah tren seharusnya menjadi sarana bersenang-senang, bukan beban yang membuat kita kehilangan kendali atas waktu dan uang.

Jadi, lain kali ketika melihat antrean panjang di tempat viral, luangkan sejenak untuk bertanya: apakah ini benar-benar keinginan kita, atau hanya dorongan sesaat karena tren media sosial? (Ilustrasi: Mediamodifier / Pixabay)


Tentang Sebarkan.id

Platform layanan jasa publikasi press release ke media online di Indonesia untuk brand, perusahaan, agensi, maupun individu yang ingin membangun personal branding dan meningkatkan eksposur melalui publikasi media.

Informasi lebih lanjut: https://sebarkan.web.id

Kontak Media

Reyhan Febrian
Humas, Sebarkan.id
Email: reyhanfebrian48@gmail.com
Telepon/WhatsApp: 081234501560

Bagikan artikel ini