Lompat ke konten utama

Rilis Pers

Harga Barang Impor Terancam Naik saat Rupiah Melemah, Siapa Paling Terdampak?

Pelemahan rupiah ke Rp 18.156 per dollar AS berpotensi menaikkan harga barang impor dan bahan baku industri, dengan daya beli kelompok berpendapatan rendah paling rentan.

Sebarkan Admin

4 menit baca
Ilustrasi uang rupiah dan dolar AS, simbol pelemahan nilai tukar yang berdampak pada harga barang impor
Ilustrasi uang rupiah dan dolar AS, simbol pelemahan nilai tukar yang berdampak pada harga barang impor

Bayangkan Anda sedang berbelanja di pasar atau swalayan, lalu melihat harga beberapa barang mulai naik dari minggu ke minggu. Bisa jadi kenaikan itu bukan sekadar musim, tetapi efek dari pelemahan nilai tukar rupiah yang tengah berlangsung. Pada Selasa, 27 Oktober 2026, rupiah pasar spot ditutup di level Rp 18.156 per dollar AS, melemah 0,12 persen dari penutupan sebelumnya, seperti dilansir Bloomberg dan dikutip Kompas.com. Angka itu menjadi sinyal bahwa harga barang impor berpotensi ikut terkerek.

Sebelumnya, pada 20 Oktober 2026, rupiah masih berada di posisi Rp 18.024 per dollar AS menurut metrotvnews.com. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan eksternal, terutama harga minyak dunia yang bertahan di atas 100 dollar AS per barrel akibat ketegangan di Timur Tengah. Alhasil, biaya impor energi dan bahan baku industri pun semakin mahal, dan ujung-ujungnya bisa merambat ke harga jual di dalam negeri.

Biaya Impor yang Merambat ke Harga Jual

Chief Economist Bank Permata, Josua Pardede, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah yang terus-menerus berpotensi menekan inflasi melalui kenaikan biaya impor energi, bahan baku industri, barang modal, obat-obatan, dan produk konsumsi yang mengandung komponen impor tinggi. Perusahaan pada awalnya mencoba menyerap kenaikan biaya dengan menurunkan margin keuntungan. Namun, jika tekanan berlangsung berbulan-bulan, biaya itu akan diteruskan secara bertahap kepada konsumen.

"Sehingga perusahaan menghadapi tekanan ganda dari kenaikan harga dalam dollar AS dan pelemahan nilai tukar," ujar Josua kepada Kompas.com, Senin (26/10/2026).

Peneliti CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menambahkan bahwa tekanan harga sudah terlihat pada sejumlah komoditas pangan dan BBM nonsubsidi. Dexlite, misalnya, naik sekitar 20 persen dalam sebulan. Ia juga menyoroti kenaikan harga bahan baku impor seperti gandum dan kedelai, serta biaya pengadaan BBM yang merambat ke harga barang jadi dan ongkos transportasi.

Bank Indonesia melalui metrotvnews.com menegaskan bahwa perubahan nilai tukar memang memengaruhi harga barang impor dan domestik. Pelemahan rupiah berpotensi menaikkan biaya produksi industri yang menggunakan bahan baku impor. Meski demikian, dampaknya tidak serta-merta menaikkan semua harga. Itu bergantung pada seberapa besar ketergantungan industri pada bahan baku impor, ketersediaan pasokan, biaya distribusi, dan kemampuan pelaku usaha menyerap biaya tambahan.

Inflasi Mendekati Batas Atas Sasaran

Tekanan ini terjadi saat inflasi nasional sudah mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia. Data yang dikutip Kompas.com menunjukkan inflasi September 2026 mencapai 3,28 persen secara tahunan, mendekati batas atas sasaran BI sebesar 3,5 persen. Badan Pusat Statistik mencatat inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 3,28 persen tahunan pada September 2026, dengan inflasi bulanan 0,30 persen dan inflasi Januari–September 2026 sebesar 2,17 persen.

Inflasi kelompok harga pangan bergejolak mencapai 5,03 persen tahunan, dipengaruhi oleh cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, dan telur ayam ras. Artinya, tekanan harga tidak hanya berasal dari nilai tukar, tetapi juga faktor pasokan pangan, cuaca, biaya produksi, dan permintaan.

Yusuf menambahkan bahwa pelemahan rupiah berpotensi menambah tekanan pada anggaran negara melalui subsidi dan kompensasi energi. Perusahaan yang memiliki utang dalam dollar AS juga harus menanggung beban pembayaran yang lebih tinggi. Di sisi lain, eksportir berpotensi untung karena pendapatan dollar AS jika dikonversi ke rupiah akan lebih besar. Namun, manfaat itu tidak selalu maksimal karena sebagian industri ekspor masih bergantung pada bahan baku dan barang modal impor.

Daya Beli Kelompok Berpendapatan Rendah Paling Rentan

Dampak terhadap daya beli masyarakat tidak merata. Menurut Josua, kelompok berpendapatan rendah paling rentan karena mayoritas pengeluaran mereka digunakan untuk pangan. Data menunjukkan kelompok 20 persen penduduk dengan pengeluaran terendah mengalokasikan sekitar 64,6 persen untuk makanan, sementara rata-rata nasional hanya 49,8 persen.

"Risiko terbesar bukan sekadar meningkatnya inflasi, tetapi melemahnya daya beli riil rumah tangga yang kemudian menekan konsumsi, penjualan dunia usaha, dan pertumbuhan ekonomi," kata Josua.

Yusuf juga menyoroti bahwa kelompok menengah bawah paling berat terdampak karena porsi pengeluaran untuk pangan dan transportasi relatif besar. Tekanan tambahan dapat langsung mengurangi konsumsi rumah tangga saat daya beli belum sepenuhnya pulih. metrotvnews.com bahkan menyoroti fenomena downgrade lifestyle sebagai indikasi perubahan perilaku konsumsi masyarakat.

Menanggapi hal itu, Wisnu Setiadi Nugroho, Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, menilai penyesuaian gaya hidup bisa menjadi respons terhadap ketidakpastian ekonomi, pendapatan yang stagnan, dan kebutuhan yang meningkat. Perubahan pola konsumsi tidak selalu berarti kesejahteraan menurun, karena sebagian orang memilih hidup lebih sederhana untuk mengatur keuangan.

Yusuf menilai langkah Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75 persen dan menaikkan suku bunga Deposit Facility menjadi 5 persen sudah tepat. Ia memperkirakan rupiah akan bergerak di kisaran Rp 17.900–Rp 18.000 per dollar AS hingga akhir tahun, dengan risiko cenderung melemah. Beberapa faktor yang memengaruhi antara lain hasil konsultasi Morgan Stanley Capital International, keputusan The Fed, dan pergerakan harga minyak dunia.

Bagi masyarakat, memahami rantai dampak ini penting agar bisa mengantisipasi kenaikan harga barang impor dan mengatur keuangan dengan lebih bijak. Seperti yang diulas dalam Kompas.com dan metrotvnews.com, hubungan antara rupiah dan daya beli bukanlah cerita sederhana, melainkan jalinan berbagai faktor yang perlu dicermati.


Tentang Sebarkan.id

Platform layanan jasa publikasi press release ke media online di Indonesia untuk brand, perusahaan, agensi, maupun individu yang ingin membangun personal branding dan meningkatkan eksposur melalui publikasi media.

Informasi lebih lanjut: https://sebarkan.web.id

Kontak Media

Sebarkan Admin
Humas, Sebarkan.id
Email: reyhanfebrian48@gmail.com
Telepon/WhatsApp: 081234501560

Bagikan artikel ini